Taman-Taman Ribawi


         
Ketika engkau hidup pada sebuah taman, yang tergambarkan di benakmu adalah sebuah kesejukan, keindahan penuh warna-warni bunga. Engkau tentu akan setia duduk berjam-jam di sana, bahkan tak akan kecewa bila harus menghabiskan nafas-nafas terakhirmu di sana. Namun, akankah sama jika itu sebuah taman dosa. Sebuah taman kedzoliman, sebuah taman penuh penderitaan, sebuah taman penuh ketidakadilan. Sebuah taman yang akan menyeretmu dalam lembah kenistaan dan kehinaan seumur hidupmu, bahkan seumur matimu. Itulah taman-taman ribawi. Seolah penuh keindahan pada awalnya, namun penuh racun pada akhirnya.
          Tersebutlah dedaunan kering yang jatuh pada tanah-tanah penuh ribawi, yang di atasnya berpijak sekumpulan warga yang sangat lekat dengan ribawi. Tak asing dan lazim, tak aneh dan tak nyleneh seolah itu bukanlah dosa tapi hal biasa, atau memang mereka telah mengubah dosa menjadi hal biasa. Angin kemarau membisikan pada dedaunan itu sebuah kisah yang pilu. Seorang ibu tua dihakimi ia oleh saudara-saudaranya dan anak-anaknya karena banyaknya hutang yang terserak di sana-sini. Ibu tua yang harusnya hidup menikmati masa tuanya tanpa beban pikiran, hidup denga penuh penghormatan anak cucunya, kini seolah tak berharga, direndahkan dan kehilangang harga dirinya. Entah hutang untuk apa, mungkinkah untuk menyambung nyawa atau untuk sekedar bisa bebas dari penagih cicilan bank yang datang hampir setiap hari. Entah ia hutang karena apa, mungkinkah untuk menghilangkan rasa lapar perutnya atau rasa  lapar matanya. Keinginan mata akan kemewahan hidup, pakaian yang bagus, perabot yang mahal. Akankah ia berhutang karena terpaksa ataukah sudah biasa. Atau memang ia begitu girang dengan kemudahan meminjam di bank harian yang tak ada kata ‘dipersulit’. Entahlah, biarkan waktu yang akan berbicara hakikat hatinya yang sebenarnya.
          Dedaunan kering itu terbang terbawa oleh angin penghujan dan ia sampai pada sebuah rumah ribawi. Rumah itu mempunyai taman-taman yang seolah indah namun semakin kau masuk kedalamnya, akan merasakan keindahannya hanyalah fatamorgana. Sebuah rumah yang dibangun dengan riba, lalu tumbuh berkembang dengan riba. Rumah yang tergadai karena riba lalu dihuni orang-orang yang tak pernah bisa lepas dari riba. Entah karena apa, mereka ingin lepaspun seolah riba terus mencekik kehidupan mereka. Dosa riba itu tak lagi dirasakan di akhirat nanti, namun tergambar jelas di dunia saat ini. Saat keluarga selalu penuh problema, penuh keresahan kegelisahan dan saling menyalahkan, tak ada ketenangan di sana. Gaji yang didapat puluhan jutapun seolah lenyap tanpa bekas, seolah tak ada nilainya karena habis untuk membayar bunga bank. Bila ia bekerja kesana kemari, membuka usaha dari dulu hingga kini, semua juga seolah tak ada hasil, tak pernah cukup, semua masuk ke tagihan yang penuh ribawi. Begitulah riba sekali kau berkenalan dengannya, jangan harap kau akan bisa hidup lepas bebas darinya. Seolah ketenangan adalah harta yang paling mahal di dunia ini, entah kapan kau akan memilikinya. Januari bertemu januari hanya berbicara tentang riba, senin bertemu senin hanya ada riba sebagai pemicu perdebatan yang tanpa solusi.
          Angin malam membisikan rayuan kepada dedaunan kering yang terjebak di dalam taman-taman ribawi. Rayuan yang lebih tepat bila dikatakan hinaan.Lihatlah seorang bapak tua yang hidup dalam rumah ribawi itu. Ia  kehilangan wibawanya, ia menjadi imam di masjid namun masih suka bermaksiat, memandang dosa riba dengan entengnya, bahkan dengan gamblangnya ia berkata “Biarlah aku yang menangung dosa dan masuk neraka.” Sungguh ancaman nerakapun seolah hanya dongeng-dongeng kemarin sore saja. Sejenak lihatlah tanpa ia sadari, ia sebenarnya tidur dalam kegelisahan. Dengkurannya keras namun tak pernah ada kenyamanan. Ia kira karena ia tak punya uang, namun sesungguhnya karena keangkuhannya yang menentang dosa-dosa ribawi. Seolah masa mudanya hingga tuanya tak pernah bisa lepas dari ribawi sedetikpun, bahkan hanya untuk bisa bernafas lega dari ribawi semenit saja, ia tidak bisa sungguh tak bisa.
          Dedaunan kering yang gugur saat tersentuh kelopak-kelopak bunga ribawi. Gugur satu persatu lalu kering dan layu karena kesedihan riba yang tak pernah ada habisnya. Setiap hari dilihatntya petugas bank hilir mudik kesana kemari. Dilihatnya setiap pintu tak pernah sepi dari ketokan petugas bank yang begitu parlente, lebih keren dari petani di sawah yang berkubang lumpur yang nyata. Tapi siapa sebenarnya yang lebih keren, petani itu atau petugas bank yang berkubang lumpur-lumpur ribawi yang tak kasat mata. Beberapa warga yang nyalinya ciut seperti curut, kadang bersembunyi dari mereka. Tebak saja, tak ada uang untuk petugas bank hari itu. Berpura-pura tak ada di rumah, atau sengaja tak ada di rumah agar tak harus berurusan dengan penagih hutang. Beberapa warga sembunyi-sembunyi bertemu petugas bank, agar keluarganya tak tahu kalau ia bertemu petugas bank untuk menyicil hutang. Entah apa yang ada dipikiran mereka, malukah, takutkah?. Wah, rupanya hukuman sosial lebih menakutkan dari pada hukuman Tuhan, sungguh terlalu.
          Dedaunan kering kini tersesat di desa-desa penuh ribawi. Kadang kala ia melihat ada renternir yang menutup kedoknya dengan berhaji, kadang beramal memberi sumbangan untuk anak yatim atau pembangunan masjid. Renternirnya jalan terus, ibadahnya jalan terus, seolah sholatnya, hajinya, sodaqohnya tak mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar. Mungkin hanya kematian, ya kematian yang nyata, bertemu siksa yang  nyata yang bisa menghentikan kekejiannya. Angin pagi kadang menertawakan dedaunan kering mengapa dedaunan itu masih berada di tempat-tempat penuh ribawi seperti itu. Angin itu berteriak padanya, “Lihatlah disana, bahkan biaya untuk berhaji mereka dapat dari hutang bank, tapi mereka begitu bangga dengan gelar hajinya. Pihak bank, yang banyak sekali doa-doa orang terdzolimi mampir kepada mereka. Bunga yang begitu tinggi, tak mau menanggung rugi jika usaha nasabahnya rugi. Siapa yang tak merasa terdzolimi akan hal itu. Pada kenyataannya semua diam, hanya diam, yang terdzolimi diam, yang mendzolimipun diam. Seolah sudah biasa mendzolimi dan didzolimi.
          Dedaunan kering yang terbang tertiup angin hingga tersesatlah ia ke dalam taman penuh ribawi. Bukan hanya taman yang nyata namun taman di dunia maya. Ya, dunia maya menawarkan kredit berbunga, menawarkan berbagai macam pinjaman berbunga semuanya berlomba-lomba menawarkan kemudahan hidup yang tampaknya saja mudah, bunga yang seolah harum semerbak namun hakikatnya adalah gas beracun yang siap menggrogoti jiwa dan hati manusia. Di dunia maya banyak sekali aplikasi-aplikasi yang semakin hari-semakin ramai bermunculan dengan bunga bervariasi. Seolah riba bukan lagi dosa, tapi sebuah tren dan gaya hidup. Ya Rabb, hidup di jaman apa aku ini. Kata orang ini jaman canggih, moderen, maju. Ya memang maju, tapi maju dari maksiat, maju dari kedzoliman, ketidakadilan, penindasan. Ya, memang jaman yang maju, tapi maju dari carut marut, maju semakin maju dari perlawanan mereka terhadap syari’at Rabb mereka. Lalu kemana dedaunan itu harus pergi jika semua dunia terkepung ganasnya ribawi.
“Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinahi ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman).  “Apabila telah marak perzinaan dan praktek riba di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk diazab oleh Allah.” (HR.Al-hakim).
Rasulullah melaknat orang yang memakan riba, yang memberi makan riba, juru tulisnya, dan dua saksinya. Beliau mengatakan : Mereka itu sama . (H.R.Muslim)



0 Comments