[Puisi] Taman-Taman Ribawi


Aku adalah saksi nyata
Ketika yang di depan terlempar ke belakang
Aku adalah saksi nyata
Ketika yang bijak berubah menjadi pendusta
Dan aku adalah saksi yang nyata
Ketika rumah megah tergadaikan dalam penjara ribawi


Maka jangan pernah pamerkan rumah dan mobilmu
Yang tercemar limbah-limbah ribawi
Jangan pernah banggakan gaji puluhan jutamu
Yang terkotori noda-noda ribawi

Bahkan aroma ribanyapun tak ingin ku hirup dalam
setiap helaan nafasku
Bahkan ujung-ujung kuku inipun tak ingin menyentuh duri-duri ribawi
Dan aku tak ingin hidup menua lalu mati dalam taman-taman ribawi

Aku adalah saksi nyata
Ketika manusia kehilangan harga dirinya
Saat terjerembab dalam jurang-jurang ribawi
Aku adalah saksi yang nyata
Ketika manusia merasakan kegelisahan seutuhnya
Saat terseret lingkaran ribawi yang tak ada kesudahannya

Maka jangan pernah banggakan gagah rupamu
Jika aliran darahmu tercemar sari-sari ribawi
Jangan pernah banggakan tinggi kedudukanmu
Jika hidupmu penuh sampah-sampah ribawi

Bahkan bau ribanyapun tak ingin ku cium di setiap pagi
hidupku
Bahkan bayangan ribanyapun tak akan pernah ku ijinkan
untuk menyentuh bayang-bayangku
Karna aku tak ingin hidup berkubang dosa tanpa henti
Lalu kurus kering bagai dedaunan rapuh tertiup angin
di taman-taman ribawi

Purbalingga, Januari 2019.



0 Comments