99 Days


picture by pixabay.com


Sembilan puluh sembilan hari aku berkisah, menuturkan segala apa yang ditangkap oleh inderawiku. Mengukirkannya dalam rangkaian kata yang semoga akan membuka hati siapa saja yang membacanya.

 

 First Day : Payung-Payung Cinta.

 

Ketika kau memilih satu jiwa untuk memayungi cintamu

Lalu seiring waktu  kau menyadari dia tak mampu lagi memayungi cintamu

Ia pergi menjadi payung cinta yang lain

Ini kisah tentang hati yang mendua

 

(suara hati seorang istri) 

Begitu mudahkah cinta berpaling ?

Termakan waktu dan usia

Adakah kulit yang mulai mengeriput memalingkanmu ?

Adakah lemak yang menggunung meruntuhkan sanjung pujamu ?

Ataukah kebosanan yang sedang menjangkitimu ?

Begitukah makna cinta yang ingin kau ajarkan ?

Berpaling ketika ada yang lain ?

 

Masih ingatkah kau ketika memorimu tertutup gelap

Hanya namaku yang kau ingat

Sanubariku bergetar hingga mantap memilih dirimu untuk menjadi payung cintaku

Kini itu hanyalah cerita lalu pemanis hidupmu

 

Dulu kau adalah payung cintaku

Memayungi cintaku yang kadang dingin terterpa angin kesedihan

Memayungi cintaku yang kadang panas terbakar kekecewaan

Kini kau seperti payung yang dengan mudahnya goyah ke sana ke mari

Tumbang tertiup angin musim kemarau

 

Adakah kau harus ku pegang erat ?

Adakah kau harus ku lepaskan pergi bersama angin

Atau menjadi payung bagi cinta yang lain

Inikah cinta yang ingin kau ajarkan

Tetap bersama namun hati entah ada di mana

 

Inikah ujian dalam berumah tangga

Ataukah aku yang tak pandai dalam memilihmu

Kata orang carilah pendamping hidup yang tak menilai cantik fisikmu

Karena ketika kecantikanmu termakan usia, cintamu pun akan meninggalkanmu

Atau memang cinta sejati itu tak pernah ada

Ia bisa hilang kapan saja

 

Ujian cinta mengajariku bahwa cinta manusia tak ada yang abadi

Jangan pernah mengagungkan cinta yang bisa pergi kapan saja

Namun agungkanlah Sang Pemilik Cinta yang hakiki

Ia yang menjadikan manusia saling mencintai dan saling membenci

Cinta yang terbaik adalah ketika kau saling mencintai karena Allah ta’ala.

Dan kebencian yang terbaik adalah ketika kau saling membenci karena Allah ta’ala

 

 

 

 

 

 

 

 


0 Comments