Kisah Rumput Kecil


Aku adalah rumput kecil yang tumbuh di taman-taman bunga yang indah. Kulihat bunga-bunga tumbuh subur. Mekar mempesona saat musim bunga bermekaran. Warna-warni menggoda setiap mata yang memandangnya. Cerah, segar, harum semerbak, memenuhi setiap penjuru mata angin. Tak ada yang tak setuju dengan kecantikannya. Sang bayupun dengan suka rela membelai setiap lembut mahkotanya yang berwarna. Tak ada yang meragu perihal keelokan bunga, primadona di setiap taman-taman cinta. Tak ada yang benci akan hadirnya yang mampu menarik kumbang dan kupu-kupu untuk datang menemani.
Photo by pixabay.com
Begitulah kalian, kalian dipandang, dipuja, tak ada yang tak melihat keberadaan kalian. Sedang aku, aku hanyalah si rumput kecil. Tak ada yang memandangku. Tak ada yang penuh decak mengagumiku. Tak ada yang berbagi sanjung untukku. Tak ada yang menginginkanku, yang mereka tahu, aku hanyalah kering yang menjadi alas sepatu-sepatu mereka yang kotor, yang mereka tahu aku adalah pengganggu yang akan dicabut jika tumbuhku mulai menyesaki taman-taman bunga. Ya aku, akulah si rumput kecil. Aku tak lupa telah berapa kali langkah kaki mereka menginjakku. Akupun tak pernah lupa Tuhan selalu menegakkanku kembali, entah itu untuk diinjak lagi atau dicabut dengan kasar dari akarnya.
Rumput kecil yang tak ada seekor kupu-kupu ataupun lebah menemani. Hanya seorang diri menanti tetesan hujan dari Sang Pemberi Hujan. Hanya seorang diri menahan kilatan petir dari sang pemilik takdir. Hanya seorang diri menahan terik mentari yang datang di kala pagi, lalu pergi di kala senja berganti. Angin kemarau pun dengan senang hati memporak-porandakan liukanku. Mungkin sudah takdirku, hanya menjadi pelengkap di taman bukan sebagai pusat perhatian. Mungkin sudah takdirku, tak pernah dianggap ada dan tak pernah dihiraukan. Bunga itu ada di pucuk sana sedang aku di bawah sini dan selalu dipandang terbawah. Aku tak semenarik bunga, aku tak secantik bunga. Tapi tahukah kau, tanpa aku yang tak cantik ini bunga tak ‘kan dikatakan cantik. Tanpa bunga yang cantik aku tak ‘kan dikatakan tak cantik.
Mata memang selalu menyukai keindahan. Mata lupa kalau Tuhan tak hanya menciptakan indah di dunia ini. Tapi Ia juga menciptakan ketidakindahan sebagai bagian kesempurnaan keagungan-Nya pada apa-apa yang diciptanya berpasangan. Ya, ada hitam putih, besar kecil, baik buruk dan semua yang berpasangan di dunia ini. Tuhan, Rabb semesta alam akan memberikan hujan kepada setiap apa yang ada di bumi, tak peduli rumput kecil atau bunga yang cantik. Hujan akan tetap menghidupkan rumput dan bunga yang layu. Tuhan pun akan tetap memberi kering layu lalu mati pada bunga yang cantik atau rumput kecil yang tak menarik. Setahuku Tuhan itu Maha Pengasih dan tak pilih kasih. Kau tahu, Tuhan juga tak pernah menilai cantik fisikmu.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Motivasi Hidup : Tak Ada yang Sia-Sia

Kita Tak Berbeda

Puisi : Aku dan Hidayah