Ketika Bencana Melanda


Ketika bencana melandamu yakinlah itu cara Rabbmu mengajarimu. Ya, mengajarimu arti kesabaran yang sebenarnya, sabar yang tanpa batas sabar yang ikhlas, sabar yang indah. Engkau akan slalu hidup dengan nafas-nafas kesabaran hingga waktumu habis di dunia ini, hingga tugasmu berakhir di bumi ini. Orang yang memiliki kesabaran yang terbatas, hanyalah orang yang ragu akan pertemuan dengan Rabbnya kelak. Setiap musibah akan menyucikanmu dari noda dosamu, dan membuatmu istimewa di mata Rabbmu. Jika engkau mau bersabar, jika engkau mau bertahan sedikit saja.
Kau akan cumlade jika hanya membaca ilmu tentang kesabaran, tapi tidak akan teruji sampai mana kesabaranmu sebelum Rabbmu mengujimu. Mengujimu dengan duka luka nestapa. Mengujimu dengan tangis tawa bahagia. Rabbmu akan terus mengujimu hingga nampak mana yang kokoh dan mana yang mudah roboh. Mana yang slalu bersyukur mana yang kufur. Bersyukur dalam segala suka duka ataupun derita. Cobaan akan slalu datang silih berganti hingga akan tampak nanti mana yang berakhir dengan kebaikan, mana yang berakhir dengan keburukan. Bencana akan selalu datang menimpa hingga terang diantara mereka, mana yang akan slalu memuji Rabbnya, mana yang akan berpaling membenci Rabbnya.
Setiap bencana dan penderitaan akan membuatmu semakin dewasa dalam menyikapi hidup. Akan membuatmu selalu menghargai kebahagiaan yang ada, walaupun itu adalah kebahagiaan kecil dan sederhana. Engkau akan menghargai setiap lengkung senyum yang tercipta untukmu atau untuk orang lain. Engkau akan menghargai setiap tetes air mata yang jatuh, akan menyadari betapa berharganya air mata, hingga kau tak sia-sia begitu saja menumpahkan air mata orang lain dan menggoreskan luka dalam hatinya. Segala puji bagi Allah yang telah menakdirkan derita dan bahagia dalam kehidupan manusia, sehingga manusia bisa mengambil hikmah darinya. Hingga manusia bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik, lebih tangguh, dan kukuh dari sebelumnya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Motivasi Hidup : Tak Ada yang Sia-Sia

Kita Tak Berbeda

Puisi : Aku dan Hidayah